Rabu, 22 April 2015

Karangan Tentang Dunia Fantasi

Karangan Deskripsi

DUNIA FANTASI

Untuk mengisi waktu liburan, 2 minggu yang lalu saya dan teman - teman saya pergi mengunjungi Dunia Fantasi atau yang biasa disebut Dufan. Kami memutuskan untuk menghabiskan sisa liburan kami disana. Sesampainya disana, saya melihat banyak sekali wahana bermain yang sangat menyenangkan. Dan saya akan menaiki wahana itu satu persatu.

Dufan memiliki luas wilayah yang luas cukup luas, beberapa wahana bermain yang menarik terdapat disana. Salah satunya adalah Halilintar. Halilintar adalah wahana bermain yang biasa disebut Roller Coaster, wahana ini cukup memacu adrenalin dan cukup menyeramkan, namun sangat menyenangkan. Selain Halilintar terdapat wahana bermain yang bernama Arum Jeram. Di Arum Jeram kita akan menaiki sebuah kapal untuk mengilingi sebuah sungai buatan yang tidak terlalu besar, namun memiliki arus yang sangat besar. Kemudian terdapat wahana yang bernama Istana Boneka. Wahana ini dibuat khusus untuk anak - anak, dengan menaiki sebuah kapal kecil pengunjung dapat mengelilingi istana untuk melihat - lihat boneka.

Itu adalah beberapa wahana bermain yang terdapat di Dufan. Dan masih banyak lagi wahana yang sangat mengasikan dan menyeramkan. Pengalamanku bersama teman- teman saat mengunjungi Dufan sangatlah menyenangkan, saya tidak akan melupakan betapa serunya bermain bersama mereka. Mungkin saya akan mengunjungi beberapa tempat lain yang lebih menyenangkan saat liburan tahun depan bersama mereka.



DUNIA FANTASI

Karangan Narasi

Tepat Pukul 08.00 WIB 2 minggu yang lalu, saya dan teman - teman saya berkumpul di kampus. Sesuai rencana kami akan pergi mengunjungi Dunia Fantasi. Sejam berlalu kami berangkat menuju Dufan menggunakan mobil.


Pukul 10.15. kami tiba di Dufan. Yuli salah satu teman saya pergi menuju loket tiket untuk membeli tiket, Karena antrian yang tidak cukup panjang, kami tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan tiket. Saat kami sudah memasuki Dufan, kami mencoba beberapa wahana bermain yang berada di Dufan, dari yang tidak menyeramkan sampai yang menyeremkan hingga memacu adrenalin. Hari sudah mulai siang, tiba saatnya kami untuk makan siang. Sesudahnya kami makan siang, kami melanjutkan untuk menaiki wahana yang belum kami naiki. Tidak terasa hari mulai sore, setelah magrib kami memutuskan untuk pulang.

Pukul 08.00 kami tiba di kampus, tempat dimana saya dan teman - teman saya tadi berkumpul. Setalah mengemas barang - barang dari mobil, sayang langsung memutuskan untuk pulang ke rumah, karena saya sudah merasa sangat lelah.


Senin, 23 Maret 2015

Fakta Sebagai Unsur dalam Penalaran Ilmiah

Penjelasan mengenai penalaran

A.  Berpikir dan Bernalar
Apa yang dimaksud dengan berpikir ?
Berpikir itu sendiri merupakan kegiatan mental yang berkaitan dengan pikiran kita sendiri. Pada saat kita berpikir maka terlintas gambaran-gambaran mengenai sesuatu hal yang tidak tampak secara nyata. Kegiatan ini tidak terkendali, terjadi dengan sendirinya, dan tanpa kita sadari. Sedangkan kegiatan berpikir dilakukan secara sadar, tersusun, dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan berpikir yang terakhir ini yang disebut dengan kegiatan bernalar.
Bernalar atau penalaran merupakan proses berpikir sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari proses penalaran dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif.

1. Penalaran induktif
Penalaran induktif adalah penalaran yang bertolak dari pertanyaan-pertanyaan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Kesimpulan yang diperoleh tidak lebih khusus daripada pernyataan (premis).
Beberapa bentuk penalaran induktif adalah sebagai berikut :
a) Generalisasi ialah proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. 
Contoh : 
Jika dipanaskan, besi memuai 
Jika dipanaskan, tembaga memuai
b) Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.Contoh : 
Ita adalah lulusan akademi perawatan
Ita dapat menjalankan tugasnya dengan baik
Tujuan penalaran secara analogi adalah:
@ Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan
@ Analogi digunakan untuk mengungkap suatu kekeliruan 
@ Analogi digunakan untuk menyususn klasifikasi 
c) Hubungan Kausal/sebab-akibat adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan kausal sering ditemukan. 
Contoh : Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia
Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antarmasalah, yaitu sebagai berikut :
Sebab – akibat : hubungan yang berpola A menyebabkan B, C, D dan seterusnya. Jadi efek dari satu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu. 
Akibat – sebab : dapat dilihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter, ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab. 
Akibat – akibat : suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. 
2/ Penalaran Deduktif 
Penalaran Deduktif adalah proses berpikir yang bertolak dari prinsip, hukum, putusan yang berlaku umum tentang suatu hal atau gejala atas prinsip umum tersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus, yang merupakan bagian dari hal atau gejala diatas.

Penarikan simpulan secara dekduktif dapat dilakukan langsung atau tidak langsung.
a) Menarik simpulan secara langsung ; ditarik dari satu premis. 
Misalnya : 
Semua S adalah P (Premis)
Sebagian P adalah S (Simpulan)
Contoh : 
Semua ikan berdarah dingin (Premis) 
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan (Simpulan) 
b) Menarik simpulan secara tidak langsung ; dari dua premis akah dihasilkan sebuah simpulan. Premis pertama yang bersifat umum dan premis kedua bersifat khusus. 
 B) Penalaran dalam Penulisan
Suatu tulisan yang bersifat deduktif dibuka dengan pernyataan umum berupa kaidah, teori, atau pertanyaan umum lainnya. Yang kemudian dikembangkan dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus. Suatu tulisan yang berisfat induktif dimulai dengan rincian-rincian dan diakhiri dengan kesimpulan umum.
Urutan Logis (Kronologis) ; pengembangan dengan urutan kronologis biasanya dipergunakan dalam memaparkan sejarah, proses, asal-usul dan riwayat hidup.
Urutan Ruang (Spasial) ; digunakan untuk menyatakan tempat atau hubungan dengan ruang, urutan ini juga digabungkan dengan urutan waktu.
Urutan Waktu Penalaran ; berdasarkan alur penalaran paragraf dikembangan dalam urutan umum-khusus dan khusus-umum. Urutan umum-khusus dipergunakan dalam karya ilmiah.
Urutan Kepentingan ; suatu karangan dikembangkan dengan urutan berdasarkan kepentingan gagasan yang dikemukakan, pembicaraan dari hal penting sampai yang tidak penting.
C) Isi Penulisan
Karya ilmiah membahas fakta meskipun pembahasan memerlukan teori atau pendapat. Berikut hal-hal yang berkaitan dengan fakta :
Generalisasi dan spesifikasi
Klasifikasi
Perbandingan dan pertentangan
Hubungan sebab-akibat
Analogi
Ramalan
C) Fakta Sebagai Unsur Dasar Penalaran Ilmiah
Penalaran memerlukan fakta sebagai unsur dasarnya, karena itu agar dapat menalar dengan tepat perlu kita miliki pengetahuan tentang fakta yang berkaitan. Jumlah fakta tidak terbatas dan sifatnya beragam. Fakta saling berkaitan baik secara fungsional maupun dalam hubungan sebab-akibat. Kita dapat menggolongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya, Proses seperti itu disebut pembagian.
Berikut proses pembagian :
Kalsifikasi ; membuat klasifikasi mengenai sejumlah fakta, berarti memasukan fakta-fakta ke dalam suatu hubungan logis berdasarkan suatu sistem. Dengan klasifikasi maka fakta dapat ditempatkan di dalam suatu sistem kelas sehingga dapat dikenali hubungannya secara horizontal dan vertikal ke samping serta ke atas dan ke bawah. Suatu klasifikasi dapat dikatakan berhenti apabila sudah sampai kepada individu yang tidak dapat diklasifikasikan lebih lanjut meskipun dapat dimasukkan kedalam suatu jenis individu. Contoh : “Dani adalah manusia” , tetapi tidak “Manusia adalah Dani” karena Dani adalah individu dan bersifat unik. Klasifikasi atau pengelompokan berbeda dengan pembagian. Pembagian lebih bersifat kuantitatif, tanpa suatu kriteria atau ciri penentu. Misalnya, seratus orang mahasiswa dibagi menjadi lima kelompok yang terdiri dari dua puluh orang. Ini merupakan pembagian. Tetapi jika pembagian itu didasarkan atas tinggi badan atau fakultasnya, maka pembagian itu merupakan klasifikasi, yaitu berdasarkan tinggi badan atau fakultas. Kelas dipecah berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut : Jenis klasifikasi dan Persyaratan klasifikasi 
Analogi ; merupakan suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran suatu gejala khusus lain yang meiliki sifat-sifat penting.
Hubungan Sebab-Akibat ; penalaran dari sebab ke akibat dimulai dengan pengamatan sebab yang sudah diketahui. Lalu kemudian ditarik kesimpulan mengenai akibat yang ditimbulkan. 
D) Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif berdasarkan atas prinsip umum yang kemudian ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus yang merupakan bagian dari suatu gejala. Atau dengan kata lain penalaran deduktif bergerak dari sesuatu yang umum kepada yang khusus.

E) Silogisme
Merupakan bentuk penalaran deduktif yang formal, yang tidak sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Proses penalaran dimulai dari premis mayor melalui premis minor  sampai pada kesimpulan. Strukturnya tetap: premis mayor, premis minor, kesimpulan. Premis mayor berisi pernyataan umum. Premis  minor  berisi pernyataan  yang  lebih khusus  yang  merupakan  bagian premis mayor (term mayor). Silogisme selalu lebih khusus daripada premisnya.
Silogisme dapat dituliskan sebagai berikut :
Jika A=B dan B=C maka A=C
a/ Premis dan TermProposisi ialah kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah. Premis ialah pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Term ialah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek atau predikat.
b/ Macam-macam Proposisi
Proposisi digolongkan berdasarkan beberapa kriteria sebagai berikut :
Menurut bentuknya, dibedakan sebagai proposisi tunggal (proposisi yang berisi hanya satu pernyataan) dan proposisi majemuk (merupakan gabungan antara dua proposisi tunggal).
Menurut sifat dan pembenaran hubungan antara subjek dan predikat. 
Berdasarkan kuantitasnya 
Berdasarkan kualitas
c/ Distribusi Term
Term bersifat distributif atau non-distributif. Dikatakan distributif jika meliputi denotasinya dan dikatakan non-ditributif jika meliputi sebagian saja.
F) Entimem
Dalam entimem sama seperti silogisme hanya saja dalam entimem salah satu premisnya di hilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

G) Salah Nalar
Kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran yang kita sebut salah nalar. Dalam hal ini mencakup dua jenis kesalahan menurut penyebabnya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan kesalahan karena materi dan proses penalarannya yang merupakan kesalahan formal.
>> Kesalahan Informal 
Sebagai sarana penalaran terutama penalaran ilmiah bahasa mengandung banyak kelemahan. Kata-kata yang sering kali tidak tegas maknanya, sehingga dapat diartikan bermacam-macam. Yang termasuk ke dalam jenis kesalahan ini ialah :
Argumentum ad Hominem (argumentasi yang ditujukan kepada diri orang) ; kesalahan itu  terjadi bila seseorang  mengambil  keputusan  atau kesimpulan  tidak berdasarkan pada penalaran  melainkan  untuk  kepentingan  dirinya,  dengan mengemukakan alasan yang tidak logis sebenarnya. 
Kesalahan Aksidensi ; kesalahan  terjadi  akibat penerapan prinsip umum terhadap keadaan yang bersifat aksidental, yaitu suatu keadaan atau kondisi kebetulan yang tidak seharusnya.
Kesalahan Komposisi dan Divisi ; terjadi  jika  kita  menerapkan  predikat  individu  kepada kelompoknya.
>> Kesalahan Informal
Kesalahan InduktifKesalahan  induktif  terjadi  sehubungan  dengan  proses  induktif.  Kesalahan  ini mungkin merupakan kesalahan generalisasi, hubungan sebab akibat, dan analogi.- Generalisasi Terlalu Luas- Hubungan Sebab Akibat yang Tidak Memadai- Kesalahan Analogi
Kesalahan Deduktif- Kesalahan  premis mayor yang tidak dibatasi- Kesalahan term keempat- Kesalahan kesimpulan dari premis-premis negatif


Fakta Sebagai Unsur dalam Penalaran Ilmiah

Agar dapat menalar dengan tepat, perlu kita memiliki pengetahuan tentang fakta yang berhubungan. Jumlah fakta tak terbatas, sifatnya pun beraneka ragam. Oleh sebab itu, sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah, kita harus mengetahui apa pengertian dari fakta.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta memiliki definisi sebagai hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Selain itu, fakta juga merupakan pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris (sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera). Fakta bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem serta dilakukan secara sekuensial maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa sebuah teori dan fakta secara empiris dapat melahirkan sebuah teori baru.

Untuk memahami hubungan antara fakta-fakta yang sangat banyak itu, kita perlu mengenali fakta-fakta itu secara sendiri-sendiri. Ini berarti bahwa kita harus mengetahui ciri-cirinya dengan baik. Dengan begitu, kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian.

Selain itu, kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu disebut pembagian, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan disebut klasifikasi.

1). Klasifikasi
Membuat klasifikasi mengenai sejumlah fakta, berarti memasukkan atau menempatkan fakta-fakta ke dalam suatu hubungan logis berdasarkan suatu sistem. Suatu klasifikasi akan berhenti, tidak dapat diteruskan lagi jika sudah sampai kepada individu yang tidak dapat merupakan spesies atau dengan kata lain jenis individu tidak dapat diklasifikasikan lebih lanjut meskipun dapat dimasukkan ke dalam suatu spesies. Contohnya, "Dani adalah manusia", tetapi tidak "Manusia adalah Dani" karena Dani adalah individu dan bersifat unik.

Perlu diingat bahwa klasifikasi atau penggolongan (pengelompokkan) berbeda dengan pembagian. Pembagian lebih bersifat kuantitatif, tanpa suatu kriteria atau ciri penentu. Tetapi klasifikasi didasarkan terhadap ciri-ciri atau kriteria yang ada dari fakta-fakta yang diteliti.

2). Jenis Klasifikasi
Klasifikasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
  • Klasifikasi sederhana, suatu kelas hanya mempunyai dua kelas bawahan yang berciri positif dan negatif. Klasifikasi seperti itu disebut juga klasifikasi dikotomis (dichotomous classification dichotomy).
  • Klasifikasi kompleks, suatu kelas mencakup lebih dari dua kelas bawahan. Dalam klasifikasi ini tidak boleh ada ciri negatif; artinya, suatu kelas tidak dikelompokkan berdasarkan ada tidaknya suatu ciri.

3). Persyaratan Klasifikasi
Klasifikasi harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa persyaratan:
  • Prinsipnya harus jelas. Prinsip ini merupakan dasar atau patokan untuk membuat klasifikasi, berupa ciri yang menonjol yang dapat mencakup semua fakta atau benda (gejala) yang diklasifikasikan.
  • Klasifikasi harus logic dan ajek (konsisten). Artinya, prinsip-prinsip itu harus diterapkan secara menyeluruh kepada kelas bawahannya.
  • Klasifikasi harus bersikap lengkap, menyeluruh. Artinya, dasar pengelompokkan yang dipergunakan harus dikenakan kepada semua anggota kelompok tanpa kecuali.

Selain itu dalam aspek fakta agar dapat membuat kesimpulan yang sah tentang sifat golongan tertentu yang berdasarkan satu atau beberapa yang diamati, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai klasifikasi – yang sudah dijelaskan sebelumnya –, generalisasi dan spesifikasi, analogi, dan hubungan sebab-akibat.

1). Generalisasi dan Spesifikasi, Dari sejumlah fakta atau gejala yang diamati ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. Proses penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan cara itu disebut generalisasi. Jadi, generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Karena itu suatu generalisasi mencakup ciri-ciri esensial atau yang menonjol, bukan rincian. Di dalam pengembangan karangan, generalisasi perlu dibuktikan dengan fakta yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus sebagai penjelasan lebih lanjut.

Ungkapan yang biasa digunakan dalam generalisasi adalah: biasanya, pada umumnya, sebagian besar, semua, setiap, tidak pernah, dan sebagainya. Dan ungkapan yang digunakan dalam penunjang generalisasi adalah: misalnya, sebagai contoh, untuk menjelaskan hal itu, sebagai bukti, dan sebagainya.

Fakta-fakta penunjang harus relevan dengan generalisasi yang dikemukakan. Suatu paragraf dalam tulisan yang mencamtumkan penunjang yang tidak relevan dipandang tidak logis. Dan generalisasi mungkin mengemukakan fakta (disebut generalisasi faktual) atau pendapat (opini).

2). Analogi, persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain atau membandingkan sesuatu dengan lainnya berdasarkan atas persamaan yang terdapat di antara keduanya.

Analogi terdiri dari dua macam, pertama analogi penjelas (deklaratif) yaitu perbandingan untuk menjelaskan sesuatu yang baru berdasarkan persamaannya dengan sesuatu yang telah dikenal, tetapi hasilnya tidak memberikan kesimpulan atau pengetahuan yang baru, kedua analogi induktif yaitu suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan (referensi) tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran suatu gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat esensial penting yang bersamaan. Jadi, dalam analogi induktif yang perlu diperhatikan adalah persamaan yang dipakai merupakan ciri-ciri esensial penting yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.

3). Hubungan Sebab Akibat, hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab-akibat, akibat-sebab, dan akibat-akibat.
  • Penalaran sebab-akibat dimulai dengan pengamatan terhadap suatu sebab yang diketahui.
  • Penalaran akibat-sebab dimulai dari suatu akibat yang diketahui.
  • Penalaran akibat-akibat berpangkal dari suatu akibat dan berdasarkan akibat tersebut dan langsung dipikirkan akibat lain tanpa memikirkan sebab umum yang menimbulkan kedua akibat itu.
B. Salah Nalar

Kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran disebut sebagai salah nalar. Ada dua jenis kesalahan menurut penyebabnya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan kesalahan karena materi dan proses penalarannya yang merupakan kesalahan formal.

a). Kesalahan Informal

Kesalahan informal biasanya dikelompokkan sebagai kesalahan relevansi. Kesalahan ini terjadi apabila premis-premis tidak mempunyai hubungan logis dengan kesimpulan. Yang termasuk ke dalam jenis kesalahan ini adalah:
  • Argumentum ad Hominem, kesalahan itu berarti "argumentasi ditujukan kepada diri orang". Artinya, kesalahan itu terjadi bila seseorang mengambil keputusan atau kesimpulan tidak berdasarkan penalaran melainkan untuk kepentingan dirinya, dengan mengemukakan alasan yang tidak logis.
  • Argumentum ad Baculum, kesalahan yang terjadi apabila suatu keputusan diterima atau ditolak karena adanya ancaman hukuman atau tindak kekerasan.
  • Argumentum ad Verucundiam atau Argumentum Adictoritatis, kesalahan yang terjadi apabila seseorang menerima pendapat atau keputusan dengan alasan penalaran melainkan karena yang menyatukan pendapat atau keputusan itu adalah yang memiliki kekuasaan.
  • Argumentum ad Populum, kesalahan itu berarti "argumentasi ditujukan kepada rakyat". Artinya, argumentasi yang dikemukakan tidak mementingkan kelogisan; yang penting agar orang banyak tergugah. Hal ini sering dilakukan dalam propaganda.
  • Argumentum ad Misericordiam, argumentasi dikemukakan untuk membangkitkan belas kasihan.
  • Kesalahan Non-Causa Pro-Causa, kesalahan ini terjadi jika seseorang mengemukakan suatu sebab yang sebenarnya merupakan sebab atau bukan sebab yang lengkap.
  • Kesalahan Aksidensi, kesalahan terjadi akibat penerapan prinsip umum terhadap keadaan yang bersifat aksidental, yaitu suatu keadaan atau kondisi kebetulan, yang tidak seharusnya, atau mutlak yang tidak cocok.
  • Petitio Principii, kesalahan ini terjadi jika argumen yang diberikan telah tercantum di dalam premisnya. Kadang-kadang petitio principii ini berwujud sebagai argumentasi berlingkar: A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan D, D dan D disebabkan A.
  • Kesalahan Komposisi dan Divisi, kesalahan komposisi terjadi jika menerapkan predikat individu kepada kelompoknya sementara kesalahan divisi terjadi jika predikat yang benar bagi kelompok dikenakan kepada individu anggotanya.
  • Kesalahan karena Pertanyaan yang Kompleks, pertanyaan yang dimaksud ini bukan dinyatakan dengan kalimat kompleks saja, namun yang dapat menimbulkan banyak jawaban.
  • Non Secuitur (Kesalahan Konsekuen), kesalahan ini terjadi jika dalam suatu proposisi kondisional terjadi pertukaran anteseden dan konsekuen.
  • Ignoratio Elenchi, kesalahan ini sama atau sejenis dengan argumentum ad Hominemad Verucundiamad Baculum, dan ad Populum yaitu tidak ada relevansi antara premis dan kesimpulannya.

b). Kesalahan Formal

Kesalahan ini berhubungan erat dengan materi dan proses penarikan kesimpulan baik deduktif maupun induktif.
1). Kesalahan Induktif
Kesalahan induktif terjadi sehubungan dengan proses induktif. Kesalahan ini terjadi karena:
  • Generalisasi yang terlalu luas.
  • Hubungan sebab akibat yang tidak memadai.
  • Kesalahan analogi. Kesalahan ini terjadi bila dasar analogi induktif yang dipakai tidak merupakan ciri esensial kesimpulan yang ditarik.

2). Kesalahan Deduktif
  • Dalam cara berpikir deduktif kesalahan yang biasa terjadi adalah kesalahan premis mayor yang tidak dibatasi.
  • Kesalahan term keempat. Dalam hal ini term tengah dalam premis minor tidak merupakan bagian dari term mayor pada premis mayor atau memang tidak ada hubungan antara kedua pernyataan.
  • Kesimpulan terlalu luas atau kesimpulan lebih luas dari pada premisnya.
  • Kesalahan kesimpulan dari premis-premis negatif.




Sumber :
  •  http://dwikartikasari-18211665.blogspot.com/2014/03/teori-teori-yang-berkaitan-dengan.html
  •  http://zuwaily.blogspot.com/2012/10/fakta-sebagai-unsur-dalam-penalaran.html#.VRAGqPmUeSp

Senin, 03 November 2014

Jenis - Jenis Paragraf Dan Salah Satu Contohnya

Paragraf pembuka
Paragraf pembuka biasanya memiliki sifat ringkas menarik, dan bertugas menyiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan.

Paragraf penghubung
Paragraf penghubung berisi inti masalah yang hendak disampaikan kepada pembaca. Secara fisik, paragraf ini lebih panjang dari pada paragraf pembuka. Sifat paragraf-paragraf penghubung bergantung pola dari jenis karangannya. Dalam karangan-karangan yang bersifat deskriptif, naratif, eksposisis, paragraf-paragraf itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa paragraf disiapkan sebagai dasar atau landasan untuk kemudian melangkah kepada paragraf-paragraf yang menekankan pendapat pengarang.

Paragraf penutup
Paragraf penutup biasanya berisi simpulan (untuk argumentasi) atau penegasan kembali (untuk eksposisi) mengenai hal-hal yang dianggap penting.

Paragraf Eksposisi
Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi.
  

Paragraf Argumentasi
Bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/ bukti.

Paragraf  Deskripsi
Berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut.

 Paragraf Persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu.

Paragraf Narasi
Karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.

 Paragraf Sebab-Akibat
Kalimat topik paragraf sebab-akibat merupakan sebab atau akibat peristiwa-peristiwa atau sifat objek yang dipaparkan dalam kalimat pengembang. Jika kalimat topiknya berupa sebab maka kalimat pengembangnya harus merupakan akibat dari sebab itu. Sebaliknya jika kalimat topiknya berupa akibat, kalimat pengembangnya harus merupakan sebab-sebab dari akibat itu.

 Paragraf deduktif
Paragraf deduktif ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal paragraf dan dimulai dengan pernyataan umum yang disusun dengan uraian atau penjelasan khusus.

Paragraf induktif
Paragraf induktif ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di akhir paragraf dan diawali dengan uraian atau penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum.

Paragraf campuran
Paragraf campuran ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal dan akhir paragraph. Kalimat utama yang terletak diakhir merupakan kalimat yang bersifat penegasan kembali.

Paragraf deskripsi
Paragraf deskripsi ditandai dengan kalimat utama yang tidak tercantum secara nyata dan tema paragraf tersirat dalam keseluruhan paragraf. Biasanya dipakai untuk melakukan sesuatu, hal, keadaan, situasi dalam cerita.

 Paragraf proses
Paragraf proses ditandai dengan tidak terdapatnya kalimat utama dan pikiran utamanya tersirat dalam kalimat-kalimat penjelas yang memaparkan urutan suatu kejadian atau proses, meliputi waktu, ruang, klimaks dan antiklimaks.

Paragraf efektif
Paragraf efektif adalah paragraf yang memenuhi ciri paragraf yang baik. Paragrafnya terdiri atas satu pikiran utama dan lebih dari satu pikiran penjelas. Tidak boleh ada kalimat sumbang, harus ada koherensi antar kalimat.

Paragraf Perulangan
Pengembangan paragraf perulangan dilakukan dengan cara mengulang kata atau kelompok kata. Pengembangan paragraf perulangan juga bisa dilakukan dengan cara mengulang bagian-bagian kalimat yang penting.

Paragraf Contoh
Paragraf contoh adalah pengembangan kalimat topik dalam sebuah paragraf dengan menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh itu dipakai untuk memperjelas maksud dalam kalimat topik.

Paragraf Pertanyaan
Kalimat topik dalam paragraf pertanyaan berbentuk kalimat tanya dan kalimat-kalimat pengembangan dalam paragraf jenis ini juga biasa merupakan jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut.

 Paragraf Perbandingan
Pengembangan Paragraf perbandingan dilakukan dengan cara membanding-bandingkan kalimat topik. Misalnya, kalimat topik mengenai hal yang bersifat abstrak dibandingkan dengan hal yang bersifat konkret dengan cara merinci perbandingan tersebut dalam bentuk yang konkret atau bagian bagian kecil.

Dan ini adalah salah satu contohnya :

Paragraf Argumentasi

Sebgian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga. Lebih-lebih sejak negeri kita terjadi krisis moneter, kecenderungan orang tua mempekerjakan anak sebagai penopang ekonomi keluarga semakin terlihat di mana-mana.

Minggu, 05 Oktober 2014

Bisnis Home Recording



Kesukaan saya terhadap dunia musik sangatlah besar. Saya sudah menyukai musik semenjak saya kecil, saya mendengarkan banyak sekali jenis musik dari berbagai genre. Sampai saat tibanya saya di bangku SMP saya memulai untuk membentuk sebuah band, dan belajar musik dengan teman – teman saya. Menurut saya bermain musik itu sangatlah mengasikkan dan menyegarkan pikiran.
Namun bermain musik tidaklah selalu tentang bersenang – senang dan sebagainya. Saya berpikir jauh tentang itu semua, saya mencoba berpikir bagaimana saya bisa mengambil keuntungan di bidang yang saya sukai ini. Selama bertahun – tahun saya belajar musik, saya berkenalan dengan banyak orang diluar sana, dan semakin banyak juga relasi yang saya punya. Dan sampai pada akhirnya saya menemukan peluang bisnis yang cukup bagus. Saya mempelajari bagaimana untuk membuat studio rekaman kecil – kecilan atau yang biasa disebut Home Recording
.
Untuk memulai bisnis rekaman hal - hal yang dibutuhkan adalah Laptop \ PC, soundcard, alat musik. Untuk laptop bisa dibeli dengan harga Rp 6.000.000, menurut saya sebagai mahasiswa, saya pikir hampir setiap mahasiswa mempunyai laptop yang biasa digunakan untuk tugas kuliah, jadi saya bisa memanfaatkan laptop itu untuk hal seperti ini. Untuk harga soundcard bisa di dapat dengan harga Rp 1.400.000 dan alat – alat lain yang dibutuhkan adalah gitar, dan microphone, speaker dan Headphone. Gitar bisa dibeli dengan harga Rp 2.000.000, dan microphone bisa dibeli dengan harga Rp, 650.000, Headphone bisa dibeli dengan harga Rp 500.000, dan speaker seharga Rp 1.500.000. Dan total modal yang di perlukan adalah Rp 12.050.000.
 
Untuk para konsumen, harga yang dibutuhkan mereka untuk melakukan proses rekaman adalah Rp 300.000 (7 jam). Jika mereka melakukan rekaman dengan waktu lebih dari 7 jam maka akan dikenakan biaya tambahan Rp 35.000. Bisnis ini bisa dilakukan setiap weekend. Bisnis bisa menjadi pekerjaan sampingan dan tidak harus sebagai pekerjaan utama, walaupun sebagaian orang menjadikan ini sebagai pekerjaan utama mereka. Jika setiap hari sabtu dan minggu adalah konsumen yang ingin melakukan rekaman, berarti selama sebulan saya akan dapat mendapatkan omset sekitar Rp 2.400.000 per-bulan. Dan jika itu berjalan lancar saya akan balik modal selama 6 bulan. Namun omset yang saya hasilkan tidak hanya sebesar itu saja, semakin saya menambah ilmu saya dibidang ini dan menghasilkan sebuah lagu yang semakin enak di dengar, dan semakin saya menambah perlengkapan alat – alat untuk proses rekaman ini, saya mempunyai kesempatan untuk menaikkan harga jual saya. Untuk seseorang yang ahli di bidang ini, mereka bisa menghasilkan Rp 1.000.000 hanya untuk memproduksi 1 lagu.
Saya pikir ini bisnis yang baik dan akan bertahan lama, di jaman sekarang ini dunia entertain sangat menjajikan dengan semakinnya teknologi yang maju. Semakin banyak orang yang ingin mencoba menjadi musisi dan artis, kita bisa mengambil keuntungan dari itu. Dimulai dari hal yang sangat kecil.





Senin, 05 Mei 2014

Industri Musik

Menurut saya Industri musik Indonesia kali ini sedang mengalami penurunan, kenapa? Karena kurang sadarnya masyarakat atau penikmat musik Indonesia untuk membeli album musik original.
Sangat banyaknya pembajakan membuat banyak musisi di Indonesia kehilangan keuntungan dari karya mereka. Sangat tidak di sadari memang oleh kita, seringnya mendownload lagu secara gratis membuat industri musik Indonesia hancur secara perlahan. Untuk membuat satu lagu saja musisi harus mengeluarkan biaya hampir 1 juta untuk lagu yang berkualitas, dan jika itu di bajak secara terbuka, keuntungan apa yang mereka dapat ? gimana jika mereka membuat album ? Untuk membuat satu album membutuhkan biaya yang sangat banyak sampai berjuta juta. Selain pembajakan, keterbalangan Indonesia adalah tidak hidupnya pasar digital album. Di luar negeri sana khususnya daerah barat, bisnis digital album itu sangat menjanjikan. Bagaimana seorang musisi hanya membuat lagu dan mereka selalu dapat keuntungan dari lagu yang mereka jual melalui iTunes, Deezer, Spotify, Google Play, Amazone, dan sebagainya. Tidak usah terlalu jauh, negara tetangga saja, Singapore sudah sangat mengerti tentang bagaimana menghargai sebuah karya seseorang. Saya harap di Indonesia pun juga seperti itu. Masyrakat Indonesia harus lebih banyak mengerti tentang menghargai sebuah karya.

Bekerja Sama Dalam Team/Kelompok (Teori Organisasi Umum)


BAB I

PENDAHULUAN



A. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK KELOMPOK

kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva merupakan orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagai niai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peran.

KARAKTERISTIK KELOMPOK

Ada dua karakteristik yang melekat pada suatu kelompok, yaitu norma dan peran. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tentang norma. Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan lainnya.

B. TAHAPAN PEMBENTUKAN KELOMPOK

Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman (1965). Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah kosep ini dicetuskan.

Tahap 1 - Forming

Pada tahap ini kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum saling percaya.

Tahap 2 - Storming

Kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah yang harus mereka selesaikan. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasi ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula yang mandenk pada tahap ini.

Tahap 3 - Norming

Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok.

Tahap 4 - Performing

Kelompok dalam tahap ini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling bergantung satu sama lainnya dan mereka saling respect dalam berkomunikasi.

Tahap 5 - Adjourning dan Transforming

Tahap dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.

C.  KEKUATAN TEAM WORK

Teamwork atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok yang bertujuan untuk mencapai target yang sudah disepakati sebelumnya. Harus disadari bahwa teamwork merupakan peleburan berbagai pribadi yang menjadi satu pribadi untuk mencpai tujuan bersama. Tujuan tersebut bukanlah tujuan pribadi, bukan tujuan ketua tim, bukan pula tujuan dari pribadi paling populer di tim.

Dalam sebuah tim yang dibutuhkan adalah kemauan untuk saling bergandeng-tangan menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi satu orang tidak menyelesaikan pekerjaan atau tidak ahli dalam pekerjaan A, namun dapat dikerjakan oleh anggota tim lainnya. Inilah yang dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu tujuan bersama.

Saling mengerti dan mendukung satu sama lain merupakan kunci kesuksesan dari teamwork. Jangan pernah mengabaikan pengertian dan dukungan ini. Meskipun terjadi perselisihan antar pribadi, namun dalam tim harus segera menyingkirkannya terlebih dahulu.



BAB II

ISI



Bekerja dalam suatu tim itu memiliki beberapa keuntungan, antara lain pekerjaan cepat selesai, pekerjaan yang berat menjadi ringan karena dikerjakan bersama-sama. Akan tetapi, bagi yang baru merasakan bekerja dalam suatu tim pasti akan merasakan banyak kekurangan dan menganggap bekerja sendiri itu lebih baik daripada bekerja dalam suatu tim.

Pikiran tersebut timbul dikarenakan di dalam suatu kelompok akan sering terjadi perbedaan pendapat, kemudian muncul keegoisan. Selanjutnya emosi ikut turut campur. Akhirnya otak tidak dapat berpikir dengan tenang. Sehingga jalan tengah sulit ditemukan, pada akhirnya berdampak pada waktu penyelesaian pekerjaan kelompok yang melebihi waktu yang telah di targetkan. Ketika terjadi seperti ini maka, orang yang baru bekerja dalam suatu tim akan beranggapan bahwa bekerja sendiri itu lebih cepat selesai daripada kerja dalam tim karena semua pekerjaan yang dilaksanakan itu sesuai dengan keinginan dan pikiran kita sendiri tanpa harus menyatukan beberapa pikiran yang lain.



Tak bisa kita pungkiri bahwa ketika dalam teamwork akan terjadi perbedaan pendapat dan pemilihan jalan tengah akan sering dipakai. Tapi dalam teamwork pelatihan emosional lebih banyak, karena pada hakekatnya dalam teamwork berisi beberapa orang yang memiliki kepribadian dan cara berpikir yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Dan ketika kita belum terbiasa dengan orang yang memiliki kepribadian yang benar-benar bertolak belakang dengan kita pasti kita akan cepat stress karena sering mengalami konflik dalam hal penyatuan pendapat atau pengambilan jalan tengah.



Akan tetapi, janganlah kita cepat menyerah ketika dihadapkan dengan situasi yang seperti itu. Kita harus tetap berusaha menelusuri sifat mereka, mempelajai karakter mereka dan kita juga harus bisa menjaga emosi agar tidak mudah meluap dikarenakan keadaan yang mulai memanas karena ketika kita emosi maka lawan bicara kita juga ikut terpancing emosinya dari nada suara kita yang berapi-api. Dan hal tersebut amat buruk dalam suatu teamwork.



Oleh karena itu, untuk membuat kita nyaman dalam teamwork adalah dengan cara perbanyak membaca buku tentang kecerdasan emosional atau tata pengolahan emosional manusia dan yang paling penting adalah buku tentang teamwork dan beri sugesti positif pada diri kita bahwa teamwork itu lebih baik daripada kerja sendiri karena manusia diciptakan pada hakekatnya sebagai makhluk sosial.




BAB III

PENUTUPAN



Pengertian kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva merupakan orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagai niai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peran.



Terdapat juga karakteristik kelompok yaitu norma dan peran. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tentang norma. Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan lainnya.





Tahap pembentukan kelompok dilakukan dengan 5 step yaitu:

*Tahap 1 - Forming

*Tahap 2 - Storming

*Tahap 3 - Norming

*Tahap 4 - Performing

*Tahap 5 - Adjourning dan Transforming







Dalam team work,kekompakan dan toleransi merupakan hal yang penting untuk menunjang susksenya team work tersebut. Dengan team work/kerja berkelompok pun kita dapat mengerjakan tugas lebih cepat karena banyak anggota dan tugas dapat dibagi secara rata dan dikerjakan oleh masing-masing anggota yang sudah dibagikan tugasnya.



Namun kelemahannya adalah dalam teamwork pelatihan emosional lebih banyak, karena pada hakekatnya dalam teamwork berisi beberapa orang yang memiliki kepribadian dan cara berpikir yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Dan ketika kita belum terbiasa dengan orang yang memiliki kepribadian yang benar-benar bertolak belakang dengan kita pasti kita akan cepat stress karena sering mengalami konflik dalam hal penyatuan pendapat atau pengambilan jalan tengah.